Minggu, 19 Juni 2016

KONSEP DASAR KEPERAWATAN

KONSEP DASAR KEPERAWATAN


I. PROSES KEPERAWATAN

Proses keperawatan memberikan kerangka yang dibutuhkan dalam asuhan keperawatan kepada klien, keluarga dan komunitas, serta merupakan metode yang efisien dalam membuat keputusan klinik, serta pemecahan masalah baik aktual maupun potensial dalam mempertahankan kesehatan.

Ilmu keperawatan di dasarkan pada suatu teori yang sangat luas. Dimana suatu konsep diterapkan dalam praktik Keperawatan Bisa di sebut sebagai suatu pendekatan Problem – Solving yang memerlukan ilmu, teknik dan ketrampilan interpersonal dan di tujukan untuk memenuhi kebutuhan Klien dan Keluarga.
Proses Keperawatan terdiri dari ; 5 tahap yang berhubungan :

1. Pengkajian
2. Diagnosis
3. Perencanaan
4. Pelaksanaan
5. Evaluasi

Tahap tersebut berintegrasi terhadap fungsi Intelektual Problem - Solving dalam mendefinisikan suatu tindakan Perawatan.

Proses Keperawatan merupakan lima tahap proses konsisten sesuai dengan perkembangan profesi keperawatan ( pertama kali oleh Hall, 1955 ).

Proses Keperawatan telah dianggap sebagai suatu dasar hukum praktik Keperawatan , ( ANA, 1973 ).
Dasar pengembangan standard praktik keperawatan
Dan juga sebagai kriteria dalam progrsmsertifikasi
Standar legal praktik keperawatan
Masuk dalam program pendidikan Keperawatan ( Kurikulum D-III Kep. & S1 Keperawatan ).

II. Tujuan
Proses Keperawatan secara umum adalah untuk membuat suatu kerangka konsep berdasarkan kebutuhan individu dari klien, keluarga, dan masyarakat dapat terpenuhi.
Tindakan yang di tujukan untuk memenuhi tujuan keperawatan

III. Organisasi
Ke 5 tahap proses keperawatan tersebut sebagai suatu organisasi yang mengatur pelaksanaan asuhan Keperawatan berdasarkan suatu rangkaian pengelolaan yang sistematis dlm memeberikan asuhan keperawatan kepada klien.

IV. Karakterisitk
Proses Keperawatan mempunyai 6 karateristik :

1. Tujuan
Proses Keperawatan mempunyai tujuan yang jelas melalui suatu tahapan dalam meninmgkatkan kualitas asuhan Keperawatan kepada klien
2. Sistematika
Menggunakan suatu pendekatan yang terorganisir untuk mencapai suatu tujuan.
Menghindari masalah yang bertentangan dengan tujuan intuisi pelayanan kesehatan/Keperawatan.
PK ditujukan pada suatu perubahan respon klien yang diidentifikasi melalui hubungan antara perawat dengan klien.
3. Dinamik
PK ditujukan dalam mengatasi masalah – masalah kesehatan klien yang di laksanakan secara berkesinambungan.
4. Interaktif
Adanya hubungan timbale balik antar perawat, Klien, Keluarga dan tenaga lainnya.
5. Fleksibel
Proses yang di lihat dari 2 konteks :
Dapat diadopsi pada praktik keperawatan dalam situasi apapun, spesialisasi yang berhubungan dengan individu, kelompok, atau masyarakat
Tahapannya bisa digunakan secara berurutan dan dengan persetujuan kedua belah pihak.
6. Teoritis
Setiap langkah dalam proses keperawatan selalu di dasarkan pada suatu ilmu yang luas, khususnya ilmu dan model Keperawatan yang berlandaskan pada Filosofi keperawatan bahwa asuhan keperawatan kepada klien harus menekankan pada 3 aspek :

Humanistik
Memandang dan memperlakukan klien sebagai manusia
Holistik
Intervensi keperawatan Harus dapat memenuhi kebutuhan dasar manusia secara utuh ( bio – psiko – sosio – spiritual ).
Care
Asuhan Keperawatan yang diberikan harus berlandaskan pada standard praktik keperawatan dan etika keperawatan.


V. IMPLIKASI KEPERAWATAN

Penerapan proses Keperawatan mempunyai implikasi atau dampak terhadap:
1. Profesi Keperawatan
Secara profesional proses keperawatan menyajikan suatu lingkup praktik keperawatan.
Melalui 5 langkah proses keperawatan
Di Timor – Leste masih adopsi dari standard keperawatan Indonesia dan ANA ( American Nurses Association ), 1973.
Undang – undang Kesehatan 57
2. Klien
Penggunaan proses Keperawatan sangat bermanfaat bagi klien dan Keluarga
Klien dan Keluarga berpartisipasi secara aktif dalam keperawatan dengan melibatkan ke dalam 5 langka proses keperawatan
3. Perawat
Proses Keperawatan akan meninmgkatkan kepuasan dalam bekerja dan meningkatkan perkembangan profesionalisme.
Mningkatkan hubungan antara perawat denga klien dapat di lakukan melalui penerapan proses keperawatan
PK meningkatkan suatu pengembangan dan kretifitas dalam penjelasan masalah klien


VI. Teori – Teori yang mendasari Proses Keperawatan :
1. Teori system, terdiri dari :
Kerangka kerja yang berhubungan dan keseluruhan social, manusia, struktur dan masalah –masalah organisasi.
Perubahan internal dan lingkungan sekitarnya
Sistem tersebut terdiri dari :
Tujuan
Proses
Isi
Tujuan :
sesuatu yang harus dilaksanakan
Arah sistem
Proses
Berfungsi dalam memenuhi tujuan yang hendak di capai
Isi
Terdiri dari bagian yang membentuk system
Feedback ( umpan balik )
Dapat dievaluasi
Memjelaskan hasil dari tindakan yg telah dilaksanakan
Antara teori system dan Proses keperawatan dapat dijelaskan :
Input à merupakan suatu kumpulan data hasil pengkajian beserta permasalahan àSusun suatu rencana dan tindakan keperawatan yang tepat.
Output à Untuk menjelaskan hasil dari tindakan yang telah dilaksanakan
2. Teori Kebutuhan Dasar Manusia
Berintegrasi satu sama lain (motivasinya)
Memenuhi kebutuhan dasar :
Fisiologis
Keamanan
Kasih sayang
Harga diri
Aktualisasi diri
Kebutuhan dasar manusia à terpenuhinya tingkat kepuasaan agar manusia bisa mempertahankan hidupnya.
Peran pereawatn à memenuhi kebutuhan dasar manusia
Tanggungjawab :
Memberikan dukungan
Menfasilitasi
Berkomunikasi kepada klien sehat dan sakit
3. Teori persepsi
Perubahan dalam pemenuhan kebutuhan dasar manusia sangat di pengaruhi oleh persepsi individu.
Interaksi

VII. Teori informasi dan Komunikasi
Tujuan asuhan keperawatan adalah untuk mengindentifikasi masalah Klien ( apakah keadaan sehat atau sakit ).

Proses Keperawatan sbg salah satu pendekatan utama dalam pemberian asuhan keperawatan.
Proses keperawatan merupakan suatu siklus, karena memerlukan suatu modifikasi penhkajian ulang, perencanaan ulang, memperbaharui tindakan dan mengevaluasi ulang.
Langka dalam proses keperawatan diperlukan suatu informasi yang akurat apabila perawat mampu menjalin komunikasi dengan baik :


Umpan balik


Pengirim ...................Pesan ............................Penerimaan

VIII. Prinsip – prinsip Etik Keperawatan yang menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan asuhan keperawatan sebagai berikut :
1. Justice ( Asasa Keadilan )
Setiap prioritas tindakan yang diberikan harus berdasarkan kondisi klien.
Tidak ada diskriminasi
2. Autonomy (Asas menghormati otomoni )
Setiap manusia mempunyai hak untuk menentukan tindakan terhadap dirinya sendiri.
3. Benefience ( Asas manfaat )
Setiap tindakan yang di berikan kepada klien harus bermanfaat bagi klien dan menghindarkan dari kecacatan
4. Veracity ( Asas Kejujuran )
Perawat dalam berkomunikasi harus mengatakan yang benar dan jujur kepada klien.
5. Fidelity ( Asas komitmen )
Apa yangh di laksanakan oleh perawat harus di dasarkan pada tanggung jawab moral dan profesi

IX. MASALAH – MASALAH ETIK KEPERAWATAN
Wadah organisasi Profesi tidak memerjuangkan profesi Perawat, tetapi organisasi profesi di Politisasi, Kepentingan Kelompok, Tidak memiliki standard competency.
Landasan moral dan etika yang paling kuat dan mendasar adalah Agama.
Perkembangan ilmu, penelitian dan teknologi kedokteran serta Keperawatan berkembang secara global tetapi tidak adanya perhatian dari pemerintah terutama Ministerio da Saúde.
Tersedianya tenaga perawat tetapi tidak di perdayakan gunakan untuk kepentingan Masyarakat.
HUBUNGAN ANTARA TAHAP PROSES KEPERAWATAN ( Alfaro, 1998 ).
Pengkajian

Pengkajian adalah tahap awal dari proses Keperawatan dan merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengindentifikasi status kesehatan klien ( Lyer etal, 1996 ).

Tahap pengkajian merupakan dasar utama dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan kebutuhan individu. Oleh karena itu pengkajian yang akurat, lengkap, sesuai dengan kenyataan, kebenaran data sangat penting dalam merumuskan suatu diagnose keperawatan dan memberikan pelayanan keperawatan sesuai dengan respon individu.

1. Standar praktik Keperawatan dari ANA

PENGKAJIAN

DIAGNOSIS

PERENCANAAN

PELAKSANAAN

EVALUASI


2. Data dasar dan Fokus
Pengkajian Keperawatan
Ø data dasar yang komprehensif adalah kumpulan data yang berisikan mengenai status Kesehatan klien, kemampuan klien untuk mengelola kesehatan dan keperawatannya terhadap dirinya sendiri, dan hasil konsultasi media ( terapis ) atau profesi kesehatan lainnya.
Ø Data focus Keperawatan adalah data tentang perubahan – perubahan atau respon klien terhadap kesehatan dan masalah kesehatannya serta hal – hal yang mencakup tindakan yang di lalsanakan kepada klien.
Fokus pengkajian Keperawatan
Ø Dalam menyusun pengkajian keperawatan tidak sama dengan pengkajian medis.
Ø Pengkajian focus à suatu pemilihan data spesifik yang ditentukan oleh perawat , klien dan keluarga berdasarkan keadaan klien.

3. Pengumpulan data ( Pulta )
Tipe data
Ada 2 tipe data pada pengkajian :
Data subyektif
Data yang di dapatkan dari klien sebagai suatu pendapat terhadap suatu situasi dan kejadian. Informasi tersebut tidak dapat ditentukan oleh perawat secara independen tetapi melalui suatu interaksi atau komunikasi.

Data subyektif sering didapatkan, dari riwayat keperawatan termasuk persepsi klien, perasaan, dan ide tentang status kesehatannya.

Ex : penjelasan klien tentang nyeri, lemah, Frustasi, mual.

Informasi yang diberikan sumber lain, ex husi familia, konsoleiro, husi team saude seluk

Data obyektif
Data yang dapat diobservasi dan diukur .

Ex; data obyektif : frekuensi pernafasan, Tekanan darah, edema dan berat badan no seluk – seluk tan.
4. Karakteristik data
Lengkap
Akurat dan nyata
Relevan
5. Sumber data
Klien à sumber utama data ( primer )
Orang terdekat : orang tua, suami, istri, anak atau teman klien
Catatan Klien : di tulis oleh anggota tim kesehatan dapat digunakan sumber informasi di dalam riwayat keperawatan
Riwayat penyakit :
Pemeriksaan fisik
Catatan perkembangan
Konsultasi :
anggota tim kesehatan spesialis
Menentukan diagnose medis dan keperawatan
Melakukan tindakan medis
Hasil pemeriksaan diagnostic
Hasil pemeriksaan Laboratorium
Tes diagnostic
Hasil pemeriksaan diagnostic
Catatan medis dan anggota tim kesehatan lainnya
Para Personil yang berhubungan dengan klien dan memberikan tindakan, mengevaluasi, dan mencatat hasil pada status klien
Catatan kesehatan terdahulu sebagai informasi
Perawat lain
Jika klien di rujuk dari pelayanan kesehatan lain
Kepustakaan
Membaca literature yang berhubungan dengan masalah klien

6. Metode pengumpulan data

Ada 3 metode yang digunakan dalam pemgumpulan data pada tahap pengkajian :
Komunikasi yang efektif
Observasi
Pemeriksaan fisik

Teknik tersebut sangat bermanfaat bagi perawat dalam pendekatan kepada klien secara rasional, sistematik dalam mengumpulkan data, merumuskan diagnose keperawatan, merencanakannya.

II. DIAGNOSE KEPERAWATAN
a. Pengertian
Diagnose Keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respons manusia ( status kesehatan atau resiko perubahan pola ) dari individu kelompok diamana perawat secara akontabilitas dapat mengindentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk untuk menjaga status kesehatan menurunkan, membatasi, mencegah, dan merubah ( Carpenito 2000 ).
Gordon, 1976 : DK à masalah kesehatan actual dan potensial dimana berdasarkan pendidikan dan pengalamannya.
NANDA à Kepeutusan klinik tentang respon individu, keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan actual dan potensial
b. Tujuan diagnose Keperawatan
Untuk mengindentifikasi masalah adanya respon kliennterhadap status kesehatan atau penyakit
Faktor – factor yang menunjang atau menyebabkan suatu masalah ( etilologies )
Mengindentifikasi kemampuan klien untuk mencegah atau menyelesaikan masalah
c. Langkah – langkah menentukan DK :
Klasifikasi dan analisa data
Interpretasi data
Validasi data
Perumusan diagnose Keperawatan
d. Merumuskan DK ( Carpeneto, 2000 ) dapat dibedakan :
Aktual : Menjelaskan masalah nyata saat ini sesuai dengan data klinik yang di temukan :

Syarat : Menegakkan diagnose keperawatan actual harus ada unsure PES.

Misal : data , muntah, diare, dan turgor jelek selama 3 hari

DK : Kekurangan volume cairan tubuh b/kehilangan cairan secara abnormal
Resiko : Menjelaskan masalah kesehatan yang nyata akan terjadi jika tidak di lakukan intervensi.

Syarat : Menegakkan resiko DK adanya unsure PE ( Problem & Etiologi )

Penggunaan istilah “ resiko dan resiko tinggi tergantung dari tinbgkat keparahan/kerentanan terhadap masalah.

Misal : Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan diare yang terus menerus.
Kemungkinan ( potensial ): Menjelaskan bahwa perlu adanya data tambahan untuk memastikan masalah keperawatan kemungkinan.

Syarat : Menegakkan kemungkinan diagnose kep. Adanya unsur respon dan factor yang mungkin dapat menimbulkan masalah tetapi belum ada.

DK : Kemungkinan g3 konsep diri : rendah diri/teroisolasi b/d diare.


III. PERENCANAAN
A. PENGANTAR

Perencanaan meliputi pengembangan strategi desain untuk mencegah, mengurangi atau mengoreksi masalah – masalah yang diidentifikasi pada diagnose keperawatan . Secara tradsional, rencana keperawatan diartikan sebagai suatu dokumen tulisan tangan dalam menyelesaikan masalah, tujuan dan intervensi.

Jadi Rencana Keperawatan merupakan metode komunikasi tentang asuhan keperawatan kepada klien. Setiap klien yang memerlukan asuhan keperawatan perlu suatu perencanaan yang baik. Sehingga semua tindakan keperawatan harus di standarisasi, dan standard tindakan tersebut dapat di baca.
B. TUJUAN PERENCANAAN

Tujuan rencana tindakan keperawatan dapat di bagi menjadi :
Tujuan Administratif
Untuk mengidentifikasi focus keperawatan kepada klien atau kelompok
Untuk membedakan tanggungjawab perawat dengan profesi kesehatan lainnya
Untuk menyediakan suatu kriteria guna pengulangan dan evaluasi keperawatan
Untuk menyediakan kriteria klasifikasi klien
Tujuan Klinik
Menyediakan suatu pedoman dalam penulisan
Mengkomunikasikan dengan staf perawat apa yang diajarkan, apa yang diobservasi, dan apa yang dilaksanakan
Menyediakan kriteria hasil ( outcomes ) sebagai pengulangan dan evaluasi keperawatan
Rencana tindakan yang spesifik secara langsung bagi individu, Keluarga, dan tenaga kesehatan lainnya untuk melaksanakan tindakan.
C. LANGKAH – LANGKAH PERENCANAAN

Untuk mengevaluasi rencana tindakan keperawatan, maka ada beberapa komponen yang perlu diperhatikan :
Menentukan prioritas masalah

Melalui pengkajian, perawat akan mampu mengidentifikasi respon klien yang actual atau potensial yang memerlukan suatu tindakan. Dalam menentukan perencanaan perlu menyusun suatu system untuk menentukan diagnose yangn akan diambil tindakan pertama kali. Salah satu system yang bisa digunakan adalah hirarki Kebutuhan manusia.
Menentukan kriteria hasil ( outcomes )

Tujuan klien dan tujuan keperawatan adalah standar atau ukuran yang digunakan untuk mengevaluasi kemajuan klien atau ketrampilan perawat.

Tujuan klien :

merupakan pernyataan yang menjelaskan suatu perilaku klien, keluarga, atau kelompok yang dapat diukur setelah intervensi keperawatan di berikan.

Tujuan Keperawatan :

Adalah pernyataan yang menjelaskan suatu tindakan yang dapat diukur berdasarkan kemampuan dan kewenangan perawat.

Pedoman penulisan kriteria hasil berdasarkan SMART :

S = Spesifik ( tujuan harus spesifik dan tidak menimbulkan arti ganda )

M = Measurable ( tujuan keperawatan harus dapat diukur, khususnya tentang

Perilaku klien; dapat di lihat, didengar, diraba, dirasakan dan dibau )

A = Achievable ( tujuan harus di capai )

R = Reasonable ( Tujuan harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah )

T = Time ( Tujuan keperawatan )



Menentukan rencana tindakan

Rencana tindakan adalah desain spesifik intervensi untuk membantu klien dalam mencapai kriteria hasil. Rencana tindakan dilaksanakan berdasarkan komponen penyebab dari diagnose keperawatan.

Intervensi keperawatan adalah suatu tindakan langsung kepada klien yang dilaksanakan oleh perawat,
Dokumentasi
Definisi

Rencana tindakan keperawatan adalah suatu proses informasi, penerimaan, pengiriman, dan evaluasi pusat rencana yang dilaksanakan oleh seorang perawat profesional.
Tujuan

Rencana tindakan keperawatan di tulis dalam suatu bentuk yang bervariasi guna mempromosikan perawatan yang meliputi :
Perawatan individu
Perawatan yang kontinyu
Komunikasi
Evaluasii
Karakterisik
Di tulis oleh perawat
Dilaksanakan setelah kontak pertama kali dengan klien
Diletakkan ditempat yang strategis ( mudah didapatkan )
Informasi yang baru.


IV. PELAKSANAAN
Pelaksanaan

Adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik ( Lyer,1996 ). Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan pada nursing orders untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu rencana tindakan yang spesifik dilaksanakan untuk memodifikasi factor – factor yang mempengaruhi masalah kesehatan klien.
Tujuan

Tujjuan dari pelaksanaan adalah membantu klien dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan, yang mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan dan memfasilitasi koping. Perencanaan tindakan keperawatan akan dapat dilaksanakan dengan baik.
Tahap tindakan Perawatan

Ada 3 tahap dalam keperawatan :
Persiapan

Persiapan tersebut meliputi kegaiatan – kegiatan :
Review tindakan keperawatan yang didentifikasi pada tahap perencanaan
Menganalisa pengetahuan dan ketrampilan keperawatan yang diperlukan
Mengetahui komplikasi dari tindakan keperawatan yang mungkin timbul
Menentukan dan mempersiapkan peralatan yang diperlukan
Mempersiapkan lingkungan yang kondusif sesuai dengan tindakan yang akan dilaksanakan
Mengindentifikasi aspek hokum dan etik terhadap resiko dari potensial tindakan
Intervensi

Pelaksanaan tindakan perawatan adalah kegiatan pelaksanaan tindakan dari perencanaan untuk kebutuhan fisik dan emosional.

Pendekatan tindakan keperawatan meliputi tindakan ;
Ø Independen
Suatu kegiatan yang dilaksanakan oleh perawat tanpa petunjuk dan perintah dari dokter atau tenaga kesehatan lain.
Dilakasanakan perawat secara independen berdasarkan Diagnose Keperawatan
Merupakan suatu respon dimana perawat mempunyai kewenangan untuk melakukan tindakan keperawatan secara pasti berdasarkan pendidikan dan penagalamannya.
Kaji klien dan keluarga melalui riwayat keperawatan dan pemeriksaan fisik untuk status kesehatan klien.
Merumuskan diagnose keperawatan
Merujuk klien ke tenaga kesehatan lain terhadap tindakan keperawatan dan Medis
Evaluasi respon klien

Ø Dependen
Tindakan dependen berehubungan dengan pelaksanaan rencana tindakan medis

Ø Interdependen
Tindakan keperawatan menjelaskan suatu kegaiatan yang memerlukan suatu kerjasama dengan tenaga kesehatan lainnya.
Dokumentasi

Pelaksanaan tindakan keperawatan harus diikuti oleh pencatatan yang lengkap dan akurat terhadap suatu kejadian dalam proses keperawatan.

V. EVALUASI

a. Pendahuluan
Adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa Jauh diagnose keperawatan, rencana tindakan, dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai.
Evaluasi sebagai sesuatu yang direncanakan , dan perbandingan yang sistermatik pada status kesehatan klien, ( Griffith, 1986 ).
Tahap Evaluasi di letakkan pada akhir proses keperawatan, Evaluasi merupakan bagian integral pada setiap tahap proses keperawatan.

b.Tujuan Evaluasi

Untuk melihat kemampuan klien dalam mencapai tujuan

Mengadakan hubungan dengan klien berdasarkan respon klien terhadap tindakan keperawatan yang diberikan, sehingga perawat dapat mengambil keputusan :
Ø Mengakhiri rencana tindakan keperawatan ( klien telah mencapai tujuan yang ditetapkan
Ø Memodifikasi rencana tindakan keperawatan ( klien mengalami kesulitan untuk mencapai tujuan ).
Ø Meneruskan rencana tindakan keperawatan ( klien memerlukan waktu yang lebih lama untuk mencapai tujuan )

c. Proses Evaluasi terdiri dari :

* Mengukur pencapaian tujuan klien

* Membandingkan data yang terkumpul dengan tujuan dan pencapaian tujuan
Hak dan Kewajiban klien
Klien berhak untuk :
Mendapat informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di Rumah Sakit
Mendapatkan pelayanan yang manusiawi, adil, jujur dan bijaksana
Memperoleh asuhan keperawatan yang bermutu berdasarkan standard profesi keperawatan
Memilih perawat atau dokter yang di kehendaki sesuai peraturan operasional di Rumah sakit
Meminta konsultasi kepada dokter atau perawat lain yang terdaftar di Rumah Sakit
Mendapatkan privacy dan kesehatan dari tindakan keperawatan yang diberikan
Memperolehy informasi tentang penyakit yang diderita, tindakan yang akan dilakukan,kemungkinan penyakit dan tindakan untuk mengatasinya ; alternatif terapi lainnya, prognose, dan estimasi biaya perawatan
Menyetujui dan atau menolak tindakan yang akan dilakukan terhadap dirinya
Mendapatkan kebebasan untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan selama tidak menggangu klien lain.
Mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan Rumah Sakit terhadap dirinya.
Kewajiban Klien
Mentaati segala peraturan dan tata tertib di Rumah Sakit
Mematuhi segala instruksi dokter atau perawat dalam pengobatannya
Memberikan informasi dengan jujur dan lengkap tentang penyakit yang diderita kepada dokter atau perawat yang merawatnya
Melunasi semua imbalan atas jasa pelayanan Rumah Sakit atau Dokter
Memenuhi hal – hal yang telah disepakti atau perjanjian yang telah dibuatnya.
Hak dan Kewajiban Perawat dan Dokter
Hak Perawat atau Dokter
Mendapatkan perlindungan Hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya.
Mengembangkan diri melalui kemampunnya spesialisasi sesuai latar belakang pendidikannya
Menolak keinginan pasien yang bertentangan dengan peraturan perundang – undang serta standard profesi dank ode Etik profesi
Mendapatkan informasi lengkap dari klien Yang tidak puas terhadap pelayanannya
Meningkatkan pengetahuan berdasarkan perkembangan IPTEK dalam bidang keperawatan secara terus menerus
Diperlakukan adil dan jujur oleh Rumah Sakit maupun klien dan atau keluarganya
Mendapatkan jaminan perlindungan terhadap resiko kerja yang berkaitan dengan tugasnya
Diikutsertakan dalam penyusunan atau penetapan kebijaksanan pelayanan kesehatan di Rumag Sakit
Diperhatikan privacynya dan berhak menuntut apabila nama baiknya telah dicemarkan oleh klien atau keluarganya
Menolak pihak lain untuk melakukan tindakan yang bertentangan dengan perundang – undangan, standard profesi dan etika profesi
Mendapatkan imbalan yang layak dari jasa profesinya sesuai dengan peraturan/ketentuan yang berlaku.
Perawat dan Dokter berhak memperoleh penghargaan atas jasa dan pengabdian berdasarkan Ilmu dan Skill ( Reward system )
Memperoleh kesempatan mengembangkan karir sesuai bidang profesinya
Kerawjiban Perawat dan Dokter
Mematuhi semua peraturan Rumah Sakit dengan hubungan hokum antara perawat dengan pihak Rumah Sakit
Mengadakan perjanjian tertulis denga pihak Rumah Sakit
Memenuhi hal – hal yang telah disepakati dan dibuatnya
Memberikan asuhan Keperawatan sesuai standar profesi dan otonominya
Menghormati hak – hak pasien
Merujuk klien kepada perawat lain/tenaga kesehatan lainnya yang mempunyai keahlian yang sesuai dengan masalah klien
Memberikan kesempatan kepada klien agar senantiasa dapat berhubungan dengan keluarganya dan dapat menjalankan ibadah sesuai dengan agama/kepercayaan sepanjang tidak bertentangan dengan Rumah Sakit
Memberikan informasi yang adekuat tentang tindakan keperawatan kepada klien/keluarga sesuai batas kewenangannya
Membuat dokumentasi asuhan keperawatan secara akurat dan berkesinambungan
Meningkatkan mutu pelayanan keperawatan sesuai dengan standar profesi keperawatan dan kepuasaan kerja
Mengikuti perkembangan IPTEK keperawatan secara terus menerus
Melakukan pertolongan darurat sebagai tugas perikemanusiaan sesuai batas kewenangannya
Merahasiakan segala sesuatu yang diketahui tentang klien, kecuali diminta keterangan oleh pihak yang berwenang

Kamis, 16 Juni 2016

KB DARURAT

Pil kontrasepsi darurat (pil kondar) adalah pil kontrasepsi yang diambil pasca-coitus untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan. Cara kerja pil ini adalah dengan mengubah endometrium sehingga tidak memungkinkan implantasi hasil pembuahan, mencegah atau menunda ovulasi dan mengganggu pergerakan telur di tuba fallopi.

Pembuahan (konsepsi) biasanya tidak terjadi segera setelah berhubungan seks tetapi hingga beberapa hari kemudian. Selama waktu antara senggama dan pembuahan, sperma berjalan melalui tuba falopi untuk bertemu dengan telur. Akibatnya, mengambil pilkontrasepsi darurat segera setelah hubungan seks tanpa kondom belum terlalu terlambat untuk mencegah kehamilan.

Ada beberapa jenis pil kontrasepsi darurat (kondar), namun tidak semuanya tersedia di Indonesia. Berikut adalah dua jenis yang paling banyak tersedia di Indonesia, yang bisa didapatkan melalui resep dokter atau bidan Anda.
Pil progestin

Pil kontrasepsi darurat yang mengandung hormon progestin (levenorgestrel). Pil ini dapat mengurangi risiko kehamilan sebesar 88% (sebanyak 12 orang hamil dari 100 orang yang memakai pil ini dalam satu tahun). Pil ini lebih cenderung memiliki efek sampinglebih berat dibandingkan dengan pil kombinasi (lihat di bawah), seperti mual, muntah, sakit kepala, pusing, nyeri payudara, perdarahan uterus yang tidak teratur dan rasa lelah.

Salah satu merek pil ini adalah Postinor-2, yang diproduksi Tunggal Idaman Abdi/Gedeon Richter. Postinor-2 harus diambil dalam waktu 72 jam setelah berhubungan seks tanpa kondom. Tablet kedua harus diminum 12 jam setelah tablet yang pertama di minum. Jika terjadi muntah dalam 2 jam, tablet harus diminum kembali.
Pil kombinasi

Jenis pil kontrasepsi darurat ini menggunakan hormon progestin dan estrogen. Pil ini mengurangi risiko kehamilan sebesar 75%, dengan efek samping mual dan muntah lebih sedikit.

Ada beberapa merek pil kondar di Indonesia, di antaranya adalah Microgynon yang diproduksi oleh Schering. Seperti halnya pil progestin, pil kombinasi harus diambil dalam waktu 72 jam pasca senggama, tablet kedua diambil 12 jam kemudian setelah dosis pertama.

Selain kedua jenis pil kontrasepsi darurat di atas, terdapat dua jenis lain yaitu pil dengan dosis kecil mifepristone (yang biasa dipakai untuk obat aborsi) yang hanya tersedia di Cina, Vietnam dan Rusia dan pil generasi baru yang mengandung asetat ulipristal, yang tersedia dengan resep di Amerika Serikat dengan merek ella dan di Eropa dengan merekellaOne.
Perlu diingat bahwa pil kondar tidak sama dengan pil aborsi mifepristone (RU-486). Pil ini bekerja mencegah kehamilan, bukan mengakhiri kehamilan. Bila Anda sudah terlanjur hamil, pil tidak bekerja dan tidak membahayakan janin.



Pil KB darurat (Emergency Contraceptives) tersedia di Indonesia dengan merek dagang Pil KB Andalan Postpil. Kontrasepsi darurat ini adalah obat-obatan berisi hormon untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan. Berbeda dengan pil KB biasa, kontrasepsi darurat tidak perlu digunakan rutin.




"Postpil ini sebenarnya adalah pil KB dosis tinggi. Terdiri dari 2 pil yang mengandung 0,75 mg Levonorgestrel (hormon progestin). Sesuai dengan peraturan, Postpill ini bisa dibeli di apotik dengan resep dokter, pil KB darurat berfungsi sebagai kontrasepsi darurat apabila terlupa atau gagal menggunakan kontrasepsi reguler (lupa minum pil kb reguler, lupa jadwal suntik, tidak yakin dengan metode kalender atau lupa menggunakan kondom).




"Postpil terdiri dari 2 pil yang masing-masing diminum pada waktu yang berlainan. Pil pertama dikonsumsi selambatnya 72 jam setelah hubungan seks dan gagal kontrasepsi, kemudian pil kedua di konsumsi 12 jam setelah pil pertama dikonsumsi,




Waktu rata-rata yang diperlukan untuk terjadinya pembuahan adalah 72 jam. Karena itulah Postpil harus dikonsumsi sebelum pembuahan terjadi.




Postpil bekerja untuk mencegah pertemuan sperma dengan sel telur dengan cara mengentalkan cairan rahim, sehingga menyulitkan sperma masuk dan tidak terjadi pembuahan.




Jika sudah terjadi pembuahan, maka Postpil tidak efektif lagi. Bila dikonsumsi sesuai aturan (selambatnya 72 jam dan pil kedua 12 jam setelahnya), Postpil memiliki tingkat efektivitas hingga 89 persen untuk mencegah kehamilan.




Namun Postpil tidak dianjurkan untuk digunakan sebagai kontrasepsi reguler karena efek samping relatif lebih berat ketimbang pil KB reguler. Efek sampingnya antara lain sakit kepala ringan, mual, sedikit nyeri pada payudara, keluar flek, perubahan mood, perubahan pada periode menstruasi. Efek ini bisa berbeda pada setiap orang.




Sama halnya dengan pil KB reguler, penggunaan metode hormonal termasuk Postpil dapat meningkatkan tekanan darah. Oleh karena itu, untuk wanita yang memiliki riwayat penyakit jantung, darah tinggi atau diabetes sebaiknya berkonsultasi dulu dengan dokter.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN ULKUS KORNEA

A. Pengertian

Ulkus kornea
Keratitis ulseratif yang lebih dikenal sebagai ulserasi kornea yaitu terdapatnya destruksi (kerusakan) pada bagian epitel kornea. (Darling,H Vera, 2000, hal 112)

Ulkus kornea merupakan kematian jaringan kornea yang dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, jamur, virus atau suatu proses alergi-imunologi yang mengakibatkan hilangnya sebagian permukaan kornea

B. Etiologi
Faktor penyebabnya antara lain:
·         Kelainan pada bulu mata (trikiasis) dan sistem air mata (insufisiensi air mata, sumbatan saluran lakrimal), dan sebagainya
·         Faktor eksternal, yaitu : luka pada kornea (erosio kornea), karena trauma, penggunaan lensa kontak, luka bakar pada daerah muka
·         Kelainan-kelainan kornea yang disebabkan oleh : oedema kornea kronik, exposure-keratitis (pada lagophtalmus, bius umum, koma) ; keratitis karena defisiensi vitamin A, keratitis neuroparalitik, keratitis superfisialis virus.
·         Kelainan-kelainan sistemik; malnutrisi, alkoholisme, sindrom Stevens-Jhonson, sindrom defisiensi imun.
·         Obat-obatan yang menurunkan mekaniseme imun, misalnya : kortikosteroid, IUD, anestetik lokal dan golongan imunosupresif.
Secara etiologik ulkus kornea dapat disebabkan oleh :
o    Bakteri
Kuman yang murni dapat menyebabkan ulkus kornea adalah streptokok pneumoniae, sedangkan bakteri lain menimulkan ulkus kornea melalui faktor-faktor pencetus diatas.
o    Virus : herpes simplek, zooster, vaksinia, variola
o    Jamur : golongan kandida, fusarium, aspergilus, sefalosporium
o    Reaksi hipersensifitas
Reaksi terhadap stapilokokus (ulkus marginal), TBC (keratokonjungtivitis flikten), alergen tak diketahui (ulkus cincin) (Sidarta Ilyas, 1998, 57-60)

C. Tanda dan Gejala
·         Pada ulkus yang menghancurkan membran bowman dan stroma, akan menimbulkan sikatrik kornea.
·         Gejala subyektif pada ulkus kornea sama seperti gejala-gejala keratitis. Gejala obyektif berupa injeksi silier, hilangnya sebagian jaringan kornea dan adanya infiltrat. Pada kasus yang lebih berat dapat terjadi iritis disertai hipopion.
·         Fotofobia
·         Rasa sakit dan lakrimasi
(Darling,H Vera, 2000, hal 112)

D . MACAM-MACAM ULKUS KORNEA SECARA DETAIL
Ulkus kornea dibagi dalam bentuk :
1. Ulkus kornea sentral meliputi:
a. Ulkus kornea oleh bakteri
Bakteri yang ditemukan pada hasil kultur ulkus dari kornea yang tidak ada faktor pencetusnya (kornea yang sebelumnya betul-betul sehat) adalah :
o    Streptokokok pneumonia
o    Streptokokok alfa hemolitik
o    Pseudomonas aeroginosa
o    Klebaiella Pneumonia
o    Spesies Moraksella
Sedangkan dari ulkus kornea yang ada faktor pencetusnya adalah bakteri patogen opportunistik yang biasa ditemukan di kelopak mata, kulit, periokular, sakus konjungtiva, atau rongga hidung yang pada keadaan sistem barier kornea normal tidak menimbulkan infeksi. Bakteri pada kelompok ini adalah :
o    Stafilokukkus epidermidis
o    Streptokokok Beta Hemolitik
o    Proteus
§  Ulkus kornea oleh bakteri Streptokokok
Bakteri kelompok ini yang sering dijumpai pada kultur dari infeksi ulkus kornea adalah :
o    Streptokok pneumonia (pneumokok)
o    Streptokok viridans (streptokok alfa hemolitik0
o    Streptokok pyogenes (streptokok beta hemolitik)
o    Streptokok faecalis (streptokok non-hemolitik)
Walaupun streptokok pneumonia adalah penyebab yang biasa terdapat pada keratitis bakterial, akhir-akhir ini prevalensinya banyak digantikan oleh stafilokokus dan pseudomonas.

Ulkus oleh streptokok viridans lebih sering ditemukan mungkin disebabkan karena pneumokok adalah penghuni flora normal saluran pernafasan, sehingga terdapat semacam kekebalan. Streptokok pyogenes walaupun seringkali merupakan bakteri patogen untuk bagian tubuh yang lain, kuman ini jarang menyebabkan infeksi kornea. Ulkus oleh streptokok faecalis didapatkan pada kornea yang ada faktor pencetusnya.

Gambaran Klinis Ulkus kornea oleh bakteri Streptokokok

Ulkus berwarna kuning keabu-abuan, berbetuk cakram dengan tepi ulkus menggaung. Ulkus cepat menjalar ke dalam dan menyebabkan perforasi kornea, karen aeksotoksin yang dihasilkan oleh streptokok pneumonia

Pengobatan : Sefazolin, Basitrasin dalam bentuk tetes, injeksi subkonjungtiva dan intra vena

· Ulkus kornea oleh bakteri Stafilokokkus

Infeksi oleh Stafilokokus paling sering ditemukan. Dari 3 spesies stafilokokus Aureus, Epidermidis dan Saprofitikus, infeksi oleh Stafilokokus Aureus adalah yang paling berat, dapat dalam bentuk : infeksi ulkus kornea sentral, infeksi ulkus marginal, infeksi ulkus alergi (toksik).

Infeksi ulkus kornea oleh Stafilokokus Epidermidis biasanya terjadi bila ada faktor penceus sebelumnya seperti keratopati bulosa, infeksi herpes simpleks dan lensa kontak yang telah lama digunakan.

Gambaran Klinis Ulkus kornea oleh bakteri Stafilokokkus

Pada awalnya berupa ulkus yang berwarna putih kekuningan disertai infiltrat berbatas tegas tepat dibawah defek epithel. Apabila tidak diobati secara adekuat, akan terjadi abses kornea yang disertai oedema stroma dan infiltrasi sel lekosit. Walaupun terdapat hipopion ulkus sering kali indolen yaitu reaksi radangnya minimal. Infeksi kornea marginal biasanya bebas kuman dan disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas terhadap Stafilokokus Aureus.



· Ulkus kornea oleh bakteri Pseudomonas

Berbeda dengan ulkus kornea sebelumnya, pada ulkus pseudomonas bakteri ini ditemukan dalam jumlah yang sedikit. Bakteri pseudomonas bersifat aerob obligat dan menghasilkan eksotoksin yang menghambat sintesis protein. Keadaan ini menerangkan mengapa pada ulkus pseudomonas jaringan kornea cepat hancur dan mengalami kerusakan. Bakteri pseudomonas dapat hidup dalam kosmetika, cairan fluoresein, cairan lensa kontak.

Gambaran Klinis Ulkus kornea oleh bakteri pseudomonas
Biasanya dimulai dengan ulkus kecil dibagian sentral kornea dengan infiltrat berwarna keabu-abuan disertai oedema epitel dan stroma. Ulkus kecil ini dengan cepat melebar dan mendalam serta menimbulkan perforasi kornea. Ulkus mengeluarkan discharge kental berwarna kuning kehijauan.
Pengobatan : gentamisin, tobramisin, karbesilin yang diberikan secara lokal, subkonjungtiva serta intra vena.

b. Ulkus kornea oleh virus
Ulkus kornea oleh virus herpes simpleks cukup sering dijumpai. Bentuk khas dendrit dapat diikuti oleh vesikel-vesikel kecil dilapisan epitel yang bila pecah akan menimbulkan ulkus. Ulkus dapat juga terjadi pada bentuk disiform bila mengalami nekrosis di bagian sentral.

c.Ulkus kornea oleh jamur
Ulkus kornea oleh jamur banyak ditemukan, hal ini dimungkinkan oleh :
o    Penggunaan antibiotika secara berlebihan dalam jangka waktu yang lama atau pemakaian kortikosteroid jangka panjang
o    Fusarium dan sefalosporium menginfeksi kornea setelah suatu trauma yang disertai lecet epitel, misalnya kena ranting pohon atau binatang yang terbang mengindikasikan bahwa jamur terinokulasi di kornea oleh benda atau binatang yang melukai kornea dan bukan dari adanya defek epitel dan jamur yang berada di lingkungan hidup.
o    Infeksi oleh jamur lebih sering didapatkan di daerah yang beriklim tropik, maka faktor ekologi ikut memberikan kontribusi.
Fusarium dan sefalosporium terdapat dimana-mana, ditanah, di udara dan sampah organik. Keduanya dapat menyebabkan penyakit pada tanaman dan pada manusia dapat diisolasi dari infeksi kulit, kuku, saluran kencing.
Aspergilus juga terdapat dimana-mana dan merupakan organisme oportunistik , selain keratitis aspergilus dapat menyebabkan endoftalmitis eksogen dan endogen, selulitis orbita, infeksi saluran lakrimal.
Kandida adalah jamur yang paling oportunistik karena tidak mempunyai hifa (filamen) menginfeksi mata yang mempunyai faktor pencetus seperti exposure keratitis, keratitis sika, pasca keratoplasti, keratitis herpes simpleks dengan pemakaian kortikosteroid.
Pengobatan : Pemberian obat anti jamur dengan spektrum luas, apabila memungkinkan dilakukan pemeriksaan laboratorium dan tes sensitifitas untuk dapat memilih obat anti jamur yang spesifik.

2. Ulkus marginal
Ulkus marginal adalah peradangan kornea bagian perifer dapat berbentuk bulat atau dapat juga rektangular (segiempat) dapat satu atau banyak dan terdapat daerah kornea yang sehat dengan limbus. Ulkus marginal dapat ditemukan pada orang tua dan sering dihubungkan dengan penyakit rematik atau debilitas. Dapat juga terjadi ebrsama-sama dengan radang konjungtiva yang disebabkan oleh Moraxella, basil Koch Weeks dan Proteus Vulgaris. Pada beberapa keadaan dapat dihubungkan dengan alergi terhadap makanan. Secara subyektif ; penglihatan pasien dengan ulkus marginal dapat menurun disertai rasa sakit, lakrimasi dan fotofobia. Secara obyektif : terdapat blefarospasme, injeksi konjungtiva, infiltrat atau ulkus yang sejajar dengan limbus.
Pengobatan : Pemberian kortikosteroid topikal akan sembuh dalam 3 hingga 4 hari, tetapi dapat rekurens. Antibiotika diberikan untuk infeksi stafilokok atau kuman lainnya. Disensitisasi dengan toksoid stafilokkus dapat memberikan penyembuhan yang efektif.
1.      Ulkus cincin
Merupakan ulkus kornea perifer yang dapat mengenai seluruh lingkaran kornea, bersifat destruktif dan biasaya mengenai satu mata.
Penyebabnya adalah reaksi alergi dan ditemukan bersama-sama penyakit disentri basile, influenza berat dan penyakit imunologik. Penyakit ini bersifat rekuren.
Pengobatan bila tidak erjad infeksi adalah steroid saja.
2.      Ulkus kataral simplek
Letak ulkus peifer yang tidak dalam ini berwarna abu-abu dengan subu terpanjag tukak sejajar dengan limbus. Diantara infiltrat tukak yang akut dengan limbus ditepiya terlihat bagian yang bening.
Terjadi ada pasien lanut usia.
Pengobatan dengan memberikan antibiotik, steroid dan vitamin.
3.      Ulkus Mooren
Merupakan ulkus kronik yang biasanya mulai dari bagian perifer kornea berjalan progresif ke arah sentral tanpa adaya kecenderungan untuk perforasi. Gambaran khasnya yaitu terdapat tepi tukak bergaung dengan bagan sentral tanpa adanya kelainan dalam waktu yang agak lama. Tukak ini berhenti jika seluuh permukaan kornea terkenai.
Penyebabya adalah hipersensitif terhadap tuberkuloprotein, virus atau autoimun.
Keluhannya biasanya rasa sakit berat pada mata.
Pengobatan degan steroid, radioterapi. Flep konjungtiva, rejeksi konjungtiva, keratektomi dan keratoplasti.
(Sidarta Ilyas, 1998, 57-60)


E. Penatalaksanaan :

Pasien dengan ulkus kornea berat biasanya dirawat untuk pemberian berseri (kadang sampai tiap 30 menit sekali), tetes antimikroba dan pemeriksaan berkala oleh ahli opthalmologi. Cuci tangan secara seksama adalah wajib. Sarung tangan harus dikenakan pada setiap intervensi keperawatan yang melibatkan mata. Kelopak mata harus dijaga kebersihannya, dan perlu diberikan kompres dingin. Pasien dipantau adanya peningkatan tanda TIO. Mungkin diperlukan asetaminofen untuk mengontrol nyeri. Siklopegik dan midriatik mungkin perlu diresep untuk mengurangi nyeri dan inflamasi. Tameng mata (patch) dan lensa kontak lunak tipe balutan harus dilepas sampai infeksi telah terkontrol, karena justru dapat memperkuat pertumbuhan mikroba. Namun kemudian diperlukan untuk mempercepat penyembuhan defek epitel.


F. Pemeriksaan Diagnostik :
1.      Kartu mata/ snellen telebinokuler (tes ketajaman penglihatan dan sentral penglihatan )
2.      Pengukuran tonografi : mengkaji TIO, normal 15 - 20 mmHg
3.      Pemeriksaan oftalmoskopi
4.      Pemeriksaan Darah lengkap, LED
5.      Pemeriksaan EKG
6.      Tes toleransi glukosa

G. Pengkajian :
1.      Aktifitas / istirahat : perubahan aktifitas
2.      Neurosensori : penglihatan kabur, silau
3.      Nyeri : ketidaknyamanan, nyeri tiba-tiba/berat menetap/ tekanan pada & sekitar mata
4.      Keamanan : takut, ansietas
(Doenges, 2000)


Diagnosa dan Intervensi Keperawatan :
1.      Ketakutan atau ansietas berhubungan dengan kerusakan sensori dan kurangnya pemahaman mengenai perawatan pasca operatif, pemberian obat
Intervensi :
o    Kaji derajat dan durasi gangguan visual
o    Orientasikan pasien pada lingkungan yang baru
o    Jelaskan rutinitas perioperatif
o    Dorong untuk menjalankan kebiasaan hidup sehari-hari bila mampu
o    Dorong partisipasi keluarga atau orang yang berarti dalam perawatan pasien.

2.      Risiko terhadap cedera yang berhubungan dengan kerusakan penglihatan
Intervensi :
o    Bantu pasien ketika mampu melakukan ambulasi pasca operasi sampai stabil
o    Orientasikan pasien pada ruangan
o    Bahas perlunya penggunaan perisai metal atau kaca mata bila diperlukan
o    Jangan memberikan tekanan pada mata yang terkena trauma
o    Gunakan prosedur yang memadai ketika memberikan obat mata

3.      Nyeri yang berhubungan dengan trauma, peningkatan TIO, inflamasi intervensi bedah atau pemberian tetes mata dilator
Intervensi :
o    Berikan obat untuk mengontrol nyeri dan TIO sesuai resep
o    Berikan kompres dingin sesuai permintaan untuk trauma tumpul
o    Kurangi tingkat pencahayaan
o    Dorong penggunaan kaca mata hitam pada cahaya kuat
4.      Potensial terhadap kurang perawatan diri yang berhubungan dengan kerusakan penglihatan
Intervensi :
o    Beri instruksi pada pasien atau orang terdekat mengenai tanda dan gejala, komplikasi yang harus segera dilaporkan pada dokter
o    Berikan instruksi lisan dan tertulis untuk pasien dan orang yang berarti mengenai teknik yang benar dalam memberikan obat
o    Evaluasi perlunya bantuan setelah pemulangan
o    Ajari pasien dan keluarga teknik panduan penglihatan
e. Perubahan persepsi sensori: visual b.d kerusakan penglihatan
Tujuan: Pasien mampu beradaptasi dengan perubahan
Kriteria hasil :
1.      Pasien menerima dan mengatasi sesuai dengan keterbatasan penglihatan
2.      Menggunakan penglihatan yang ada atau indra lainnya secara adekuat

Intervensi:
o    Perkenalkan pasien dengan lingkungannya
o    Beritahu pasien untuk mengoptimalkan alat indera lainnya yang tidak mengalami gangguan
o    Kunjungi dengan sering untuk menentukan kebutuhan dan menghilangkan ansietas
o    Libatkan orang terdekat dalam perawatan dan aktivitas
o    Kurangi bising dan berikan istirahat yang seimbang

f. Kurang pengetahuan b.d kurangnya informasi mengenai perawatan diri dan proses penyakit
Tujuan: Pasien memiliki pengetahuan yang cukup mengenai penyakitnya
Kriteria hasil:
1.      Pasien memahami instruksi pengobatan
2.      Pasien memverbalisasikan gejala-gejala untuk dilaporkan
Intervensi:
o    Beritahu pasien tentang penyakitnya
o    Ajarkan perawatan diri selama sakit
o    Ajarkan prosedur penetesan obat tetes mata dan penggantian balutan pada pasien dan keluarga
o    Diskusikan gejala-gejala terjadinya kenaikan TIO dan gangguan penglihatan

PATHWAYS

1.      Kelainan pada bulu mata dan sistem air mata
2.      Trauma kornea
3.      Kelainan kornea
4.      Kelainan sistemik
5.      Obat penurun mekanisme imun
1.      Bakteri
2.      Virus
3.      Jamur
4.      Hipersensitivitas

Menginfeksi kornea
Terpajannya reseptor nyeri
Ulkus
Perforasi kornea
Tumpukan pus di camera oculi anterior


Nyeri

Ruptur kornea

TIO meningkat
t
Perubahan Persepsi sensori : penglihatan

Penglihatan terganggu

Resiko cidera


Harga diri rendah